BI: Makanan dan Transportasi Jadi Faktor Utama Inflasi Papua

Harga Pangan dominan, Inflasi Papua beragam di awal tahun 2026, Rabu. 4/2/2026 (Foto;  Humas BI Papua) 



JAYAPURA | Suaracyclops.com – Perkembangan inflasi di wilayah Papua dan Daerah Otonomi Baru (DOB) menunjukkan dinamika yang beragam pada Januari 2026.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirangkum Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Papua, hampir seluruh provinsi di wilayah Papua mengalami deflasi secara bulanan, kecuali Provinsi Papua Selatan yang mencatat inflasi sebesar 1,06 persen (mtm).

KPw BI Papua menjelaskan, kondisi ini dipengaruhi oleh menipisnya stok pangan lokal pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, serta faktor ketidakpastian cuaca.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi di wilayah Papua justru menunjukkan tren meningkat akibat low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik pada Januari 2025, serta kenaikan harga emas yang dipicu oleh ketidakpastian global.

Secara umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah Papua.

Provinsi Papua Alami Deflasi
Untuk Provinsi Papua, tercatat:
Bulanan: -0,36 persen (mtm)
Tahun berjalan: -0,36 persen (ytd)
Tahunan: 3,55 persen (yoy)
Deflasi ini terutama dipicu oleh turunnya harga angkutan udara dengan andil -0,40 persen.
Disusul buah pinang (-0,18 persen), tomat (-0,05 persen), sirih (-0,05 persen), dan cabai rawit (-0,04 persen).

Sementara komoditas yang masih mengalami kenaikan harga antara lain kangkung (0,15 persen), emas perhiasan (0,13 persen), ikan tuna (0,09 persen), ikan kawalina (0,06 persen), serta sigaret putih mesin (0,06 persen).

Papua Selatan Catat Inflasi Tertinggi
Berbeda dengan wilayah lain, Papua Selatan mencatat inflasi bulanan tertinggi di Papua, yaitu:
Bulanan: 1,06 persen
Tahun berjalan: 1,06 persen
Tahunan: 4,83 persen
Inflasi didorong oleh kenaikan harga ikan mujair (0,55 persen), emas perhiasan (0,22 persen), kangkung (0,10 persen), daging ayam ras (0,09 persen), dan bawang merah (0,06 persen).

Sementara komoditas yang menahan laju inflasi di Papua Selatan adalah angkutan udara (-0,14 persen), sawi hijau (-0,06 persen), bensin (-0,03 persen), buncis (-0,03 persen), dan wortel (-0,02 persen).
Papua Tengah dan Pegunungan Ikut Deflasi

Provinsi Papua Tengah mencatat:
Bulanan: -0,29 persen
Tahun berjalan: -0,29 persen
Tahunan: 4,85 persen
Deflasi terutama dipicu oleh cabai rawit (-0,57 persen), cabai merah (-0,11 persen), serta penurunan harga angkutan udara (-0,08 persen).

Sementara di Papua Pegunungan, inflasi tahunan tercatat 2,93 persen (yoy) dengan deflasi tahun berjalan -0,05 persen (ytd).

Penurunan harga cabai rawit (-0,50 persen) menjadi faktor utama deflasi, disusul talas/keladi, tomat, daging babi, dan bawang merah.
BI Perkuat Pengendalian Inflasi
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono, menyampaikan bahwa pengendalian inflasi terus dilakukan melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan mitra strategis.

Langkah tersebut meliputi:
Keterjangkauan harga, melalui penyusunan kalender tanam dan panen sebagai dasar Gerakan Pangan Murah (GPM).

Ketersediaan pasokan, dengan pemetaan kelompok tani potensial.
Kelancaran distribusi, termasuk bantuan sarana prasarana kepada kelompok tani di Kabupaten Jayawijaya.

Komunikasi efektif, melalui rapat koordinasi TPID serta edukasi publik menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.

Bank Indonesia berharap langkah ini dapat menjaga stabilitas harga serta memperkuat ketahanan pangan lokal di seluruh wilayah Papua dan DOB. (Humas/DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar