SENTANI | Suaracyclops.com —
Istilah Pemuda Adat dalam Bahasa Sentani memiliki makna yang jauh lebih dalam dari sekadar sebutan generasi muda yang tinggal di wilayah adat. Dalam Bahasa Sentani, pemuda disebut Hokholo, sedangkan adat dikenal sebagai Mang atau Mam. Jika digabungkan, Pemuda Adat disebut Mang/Mam Hokholo.
Menurut tokoh intelektual Pemuda Adat Suku Sentani, Willem Depondoye, S.H, istilah ini mengandung nilai filosofis yang kuat dan sarat makna kehidupan.
“Mang/Mam Hokholo bukan hanya menunjuk pada kelompok usia muda yang tinggal di lingkungan adat, tetapi menggambarkan pribadi yang matang secara sikap dan pandangan hidup, karena memahami dan menghormati tatanan hukum adatnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam pandangan masyarakat Sentani, seorang Mang/Mam Hokholo adalah generasi muda yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga dewasa secara moral, etika, dan spiritual.
Mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara nilai-nilai leluhur dan tantangan zaman modern.
Lebih lanjut, Willem menekankan bahwa pemuda adat harus menjadi penjaga identitas budaya sekaligus agen perubahan yang membawa kemajuan tanpa meninggalkan akar tradisi.
“Pemuda adat adalah pilar masa depan masyarakat adat. Mereka adalah pewaris nilai, pelindung hukum adat, dan penentu arah peradaban lokal,” tambahnya.
Makna Mang/Mam Hokholo ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Sentani untuk terus mencintai, menjaga, dan menghidupi adat istiadatnya di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.
Dengan pemahaman yang benar, Pemuda Adat bukan sekadar status, tetapi sebuah tanggung jawab mulia dalam menjaga kehormatan dan keberlanjutan budaya masyarakat Sentani. (DanTop)
0 Komentar