Mahkota Cenderawasih Dibakar, Martabat Papua Terluka: Ismael Mebri Serukan Keadilan untuk Adat

Ketua Umum Dewan Presidium Masyarakat Adat Tabi Papua (DEPMATA), Ismael Isack Mebri, SKM., MPH. Rabu, 22/10/20225. (Foto;  Doc IsMe)


SENTANI | Suaracyclop.com – Mahkota burung cenderawasih bagi masyarakat adat Papua bukan sekadar hiasan kepala. Ia merupakan simbol kehormatan, kebesaran, serta identitas budaya yang diwariskan turun-temurun dan memiliki makna sakral.

Membakar atau merusak mahkota tersebut dianggap sebagai tindakan yang menghina dan merusak jati diri masyarakat adat Papua. Simbol ini menjadi lambang keagungan leluhur dan martabat bangsa di tanah Papua.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Presidium Masyarakat Adat Tabi Papua (DEPMATA), Ismael Isack Mebri, SKM., MPH. Menurutnya, mahkota cenderawasih adalah bagian penting dari identitas adat dan spiritual masyarakat Papua yang tidak boleh dilecehkan.

“Mahkota burung cenderawasih bagi masyarakat adat Papua adalah simbol kehormatan, kebesaran, dan identitas budaya yang sangat sakral. Membakarnya adalah sebuah tindakan yang menghina dan merusak jati diri,” ujar Ismael Isack Mebri.

Pesan tersebut juga dituangkan dalam karya sastra berjudul “Serpihan Harga Diri”, yang menggambarkan duka dan kehilangan mendalam ketika simbol kehormatan itu dinistakan.

“Di atas kepala, tahta suci berdiri, helai demi helai bulu-bulu cenderawasih.
Bukan sekadar hiasan, ia adalah jati diri, sayap-sayap leluhur yang tak pernah mati.”


Kata-kata itu melukiskan bahwa setiap helai bulu cenderawasih memiliki nilai spiritual tinggi. Ketika bulu itu terbakar, seolah martabat dan harga diri masyarakat pun ikut musnah.

Dalam bait lain, penyair menulis tentang api yang membakar bulu-bulu mahkota, menggambarkan luka batin dan kehilangan identitas yang begitu dalam:

"Asap membubung, saksi duka nestapa,
Lambang kehormatan kini tiada rupa.
Kami berdiri hampa, tanpa pelindung diri,
Ditelanjangi martabat, tertinggal sepi.”



Puisi ini tidak hanya berbicara tentang benda fisik, tetapi juga tentang kehormatan dan jati diri suatu bangsa. Bagi masyarakat Papua, mahkota burung cenderawasih adalah lambang kehidupan, persatuan, dan harga diri yang tidak ternilai.


Di akhir karya, penulis menutup dengan pesan pilu namun penuh makna:

“Mahkota burung surga, kini tinggal cerita,
Sirna bersama api, duka meraja.”


Ketua Umum DEPMATA, Ismael Isack Mebri, menegaskan bahwa karya tersebut menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat agar menghormati simbol-simbol adat yang sakral. Ia berharap, kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya Papua terus tumbuh di tengah arus modernisasi.

“Kita harus menjaga nilai-nilai luhur dan identitas adat kita. Mahkota cenderawasih bukan hanya hiasan, tapi jiwa dan martabat orang Papua,” tegasnya.


Karya “Serpihan Harga Diri” menjadi seruan moral bagi bangsa Indonesia untuk lebih menghormati dan melestarikan simbol-simbol adat, sebagai wujud penghargaan terhadap keberagaman budaya dan jati diri bangsa. (IsMe/DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar