Sekolah di Sentani Jadi Contoh Nyata Pelestarian Bahasa Daerah Papua

Antonius Maturbongs, S.pd.,M.pd. Perwakilan Balai Bahasa Provinsi Papua. Rabu. 29/10/2025 (Foto; RAE)



SENTANI | Suaracyclops.com - Peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Bahan Ajar Muatan Lokal Bahasa Daerah dari Kabupaten Merauke melakukan kunjungan belajar ke dua sekolah binaan Sekolah Adat Negeri Papua, yakni SMP Negeri 6 Sentani dan SMA Negeri 1 Kabupaten Jayapura, pada Rabu (29/10).

Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Bahasa Provinsi Papua sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang sebelumnya digelar di Kabupaten Merauke. Tujuannya agar para peserta memperoleh gambaran nyata penerapan pembelajaran muatan lokal bahasa daerah yang telah berjalan baik di sekolah-sekolah di Kabupaten Jayapura.

“Harapannya, setelah mereka kembali ke Merauke, apa yang mereka lihat dan pelajari di SMPN 6 dan SMAN 1 Sentani dapat diterapkan di sekolah masing-masing,” ujar Antonius Maturbongs, perwakilan Balai Bahasa Provinsi Papua.

Ia menjelaskan, sekolah-sekolah binaan di Kabupaten Jayapura telah menerapkan pembelajaran berbasis pelestarian bahasa daerah secara konsisten selama lebih dari lima hingga enam tahun terakhir. Program ini menjadi bagian penting dari upaya perlindungan bahasa daerah di Tanah Papua, agar tidak punah dan tetap diwariskan kepada generasi muda.

“Yang menarik, peserta didik di sekolah ini bukan hanya anak asli Papua, tetapi juga siswa pendatang. Mereka sama-sama antusias belajar bahasa daerah. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan program pelindungan bahasa,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu peserta Bimtek yang juga Kepala Bidang Pengendali Perizinan dan Bahasa Sastra Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kabupaten Merauke, Untung, S.Pd, menyampaikan kesannya setelah mengikuti kunjungan tersebut. Ia mengaku banyak memperoleh inspirasi dan pengalaman baru mengenai cara pengajaran bahasa daerah di sekolah.

“Modul pelestarian bahasa yang kami lihat di sini menjadi contoh yang sangat berharga. Setelah kembali ke Merauke, kami akan mengembangkan bahan ajar dan menularkan pengalaman ini kepada rekan-rekan tutor serta para guru di sana, agar pembelajaran muatan lokal bahasa daerah bisa diterapkan juga di Merauke,” ungkap Untung.

Ia juga menilai bahwa sekolah di Sentani telah menjadi contoh nyata penerapan pembelajaran bahasa ibu, yakni bahasa Sentani, baik di SMP Negeri 6 maupun SMA Negeri 1 Kabupaten Jayapura. “Kunjungan hari ini memberi kami wawasan dan pengalaman baru yang akan kami bagikan kepada rekan-rekan di Merauke,” tambahnya.

Menurut data Balai Bahasa Provinsi Papua, terdapat 408 bahasa daerah di Tanah Papua berdasarkan pendataan tahun 2019. Namun, sebagian besar di antaranya kini terancam punah. Karena itu, Balai Bahasa mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah, sekolah adat, tokoh masyarakat, dan tokoh adat dalam menjaga eksistensi bahasa-bahasa daerah di Papua.

“Sebagai contoh, di Kabupaten Merauke juga sudah menerapkan peraturan daerah tentang penggunaan bahasa daerah. Ini menjadi bentuk nyata komitmen pelestarian agar bahasa-bahasa daerah di Tanah Papua tidak punah,” tutup Maturbongs.(RAE/DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar