Dari Ampas Sagu Jadi Karya: ISBI Tanah Papua Dorong Ekowisata Budaya di Kampung Sereh

Bayu Aji Suseno selaku Dosen Kampus Isbi Tanah Papua. Kamis, 20/11/2025 (Foto; Nagret) 



SENTANI | Suaracyclops.com - Upaya pelestarian budaya dan lingkungan di Tanah Papua mendapat dorongan baru melalui Program Inovasi Seni Nusantara 2025 yang digelar Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua . Program ini bukan hanya soal seni, tetapi juga tentang menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam ekowisata Hutan Sagu EbheHekhe yang menjadi napas kehidupan bagi masyarakat Sereh. Kamis, (20/11).

Ketua tim program, Putri Prabu Utami, memimpin langsung kegiatan yang menggandeng dosen dan seniman dari program studi seni rupa, desain, dan seni pertunjukan. Mereka memberikan pelatihan intensif kepada masyarakat Kampung Sereh, khususnya Sanggar Seni Robonghollo, untuk memperkuat literasi alam, budaya, dan kreativitas lokal.

Sagu sebagai Identitas dan Kehidupan Masyarakat Papua

Menurut anggota tim, Bayu Aji Suseno, pemilihan sagu bukan tanpa alasan. Dalam budaya Papua, sagu bukan sekadar makanan, tetapi simbol ketahanan, kebijaksanaan leluhur, dan hubungan manusia dengan tanah. “Sagu adalah hidup orang Papua. Di balik pohonnya ada cerita, doa, dan perjalanan leluhur. Karena itu, kami ingin mengolahnya bukan hanya sebagai bahan kerajinan, tapi juga sebagai warisan budaya,” jelas Bayu.

Program ini melatih warga mengolah limbah ampas sagu menjadi kertas, kulit, dan kerajinan bernilai ekonomi. Pengolahan limbah ini dinilai sebagai upaya mempertahankan tradisi pengelolaan sagu secara lestari, sambil memperkenalkan cara baru yang ramah lingkungan dan berpihak pada masyarakat adat.

Teater Musik: Cerita tentang Hutan, Leluhur, dan Harmoni

Sementara itu, jurusan seni pertunjukan menciptakan sebuah teater musik bertema Hutan Sagu EbheHekhe, lengkap dengan tiga lagu baru yang menggambarkan hubungan sakral masyarakat dengan hutan. Pertunjukan ini merangkum nilai-nilai adat:
— penghormatan pada leluhur,
— kewajiban menjaga dusun sagu,
— serta pesan moral tentang keseimbangan alam.

“Teater musik ini bukan hanya tontonan, tetapi ruang untuk mengajarkan generasi muda bahwa hutan adalah rumah, guru, dan warisan. Inilah esensi budaya yang ingin kami tunjukkan kepada wisatawan,” ujar Bayu.

Pertunjukan ini dirancang agar dapat menjadi atraksi ekowisata yang memperkenalkan nilai budaya Papua kepada pengunjung dengan cara yang hidup dan artistik.

Hutan Sagu EbheHekhe, Ruang Adat yang Hidup

Hutan Sagu EbheHekhe sejak lama menjadi ruang adat, tempat masyarakat melakukan ritual, dan mencari makan serta berbagi cerita, dan menjaga hubungan dengan alam. Di tempat inilah generasi muda belajar tentang batas dusun, aturan adat, dan cara mengambil hasil hutan tanpa merusaknya.

Ketua Sanggar Seni Robonghollo, Jemmy Ondikeleuw, menegaskan pentingnya program ini bagi identitas budaya masyarakat Sentani. 

“Dusun sagu itu bukan sekadar tempat ambil makanan. Itu rumah besar leluhur. Dengan seni dan pelatihan ini, anak-anak sekarang bisa lebih paham bahwa menjaga sagu berarti menjaga diri dan masa depan,” katanya.

“Daripada ampas sagu yang sudah terpakai kita buang begitu saja, lebih baik kita olah kembali jadi kerajinan tangan yang unik dari masyarakat kampung sendiri. Kegiatan seperti ini membuat kita lihat bahwa limbah pun bisa jadi nilai budaya dan ekonomi,” ucap Jemmy.

Sebagai anak-anak dusun sagu dan pegiat aksi iklim di Kabupaten Jayapura, Jemmy melihat program ini sebagai jembatan antara seni, adat, dan konservasi.

“Kita jaga dusun sagu dengan cara kembangkan ekowisata di dusun sagu, supaya hutan ini tetap terjaga oleh masyarakat kampung sendiri,” tutupnya. (RAE/DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar