Peserta pelatihan dari 3 Kampung lansung bawa pulang hasil karyanya diberikan resmi oleh Plt. Kadis Sosial Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua. Selasa, 16/12/2025 (Foto; Dani)
SENTANI | Suaracyclops.com – Pemerintah Provinsi Papua melalui Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua secara resmi menutup kegiatan Rehabilitasi Sosial Dasar Anak Terlantar Dalam Panti Tahun 2025, Selasa (16/12).
Penutupan kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua, Dr. Djong H.W. Makanuay, S.T., M.M, yang berlangsung di UPTD Panti Bina Sosial Provinsi Papua dan ditandai dengan pemukulan tifa sebagai simbol penutupan resmi.
Dalam sambutannya, Dr. Djong Makanuay menegaskan bahwa permasalahan sosial masih menjadi tantangan serius di Indonesia, termasuk di Tanah Papua. Kemiskinan, pengangguran, konflik sosial, hingga persoalan anak terlantar dan anak putus sekolah masih relevan hingga saat ini.
“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan Indonesia pada tahun 2024 masih berada di angka 9,36 persen. Kondisi ini turut memicu munculnya berbagai persoalan sosial seperti anak terlantar, anak jalanan, lansia terlantar, serta kelompok rentan lainnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat empat faktor utama yang memengaruhi munculnya masalah sosial, yakni faktor ekonomi, budaya, biologis, dan psikologis. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan berdampak langsung terhadap stabilitas sosial masyarakat.
Lebih lanjut, Dr. Djong menyampaikan bahwa kegiatan rehabilitasi sosial ini merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial, Permensos Nomor 16 Tahun 2019 tentang Standar Nasional Rehabilitasi Sosial, serta Permensos Nomor 7 Tahun 2021 tentang Asistensi Rehabilitasi Sosial.
Melalui UPTD Panti Bina Sosial Provinsi Papua, pemerintah hadir secara langsung untuk menangani anak dan remaja putus sekolah, terlantar, serta berasal dari keluarga tidak mampu, baik secara fisik maupun nonfisik.
“Kami memberikan pelayanan sosial berupa bimbingan sosial, mental spiritual, psiko-sosial, fisik, serta pelatihan keterampilan agar anak-anak dan remaja ini dapat mandiri dan tidak bergantung pada orang lain,” jelasnya.
Pada tahun 2025 ini, sebanyak 20 anak dan remaja mengikuti program rehabilitasi sosial selama tiga bulan, dengan dua jurusan keterampilan utama, yakni pembuatan fiberboat dan keterampilan mengemudi. Program ini diharapkan mampu membekali peserta dengan life skill yang dapat dimanfaatkan di tengah keluarga maupun masyarakat.
“Saya berharap bekal keterampilan yang telah diterima dapat memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar, terutama keluarga, sehingga para peserta mampu berperan aktif dan mandiri di masyarakat,” harap Dr. Djong.
Pada kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para mitra yang terlibat langsung dalam menyukseskan kegiatan ini, yakni Polres Jayapura melalui Yayasan Kemala Bayangkari serta Best Boat Entrop, sebagai bengkel pembuatan speed boat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua dan Dinas Sosial, Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi Papua, kami mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja sama semua pihak,” tuturnya.
Kegiatan rehabilitasi sosial dasar anak terlantar dalam panti tahun 2025 ini resmi ditutup dengan doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Kiranya Tuhan memberkati kita semua,” tutup Dr. Djong Makanuay. (DanTop)
0 Komentar