SENTANI | Suaracyclops.com – Kegiatan Rehabilitasi Sosial Dasar Anak Terlantar di Dalam Panti Tahun Anggaran 2025 yang dilaksanakan oleh UPTD Panti Bina Sosial Provinsi Papua berlangsung selama tiga bulan dan dirancang secara terpadu sesuai dengan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA).
Hal tersebut disampaikan Kepala UPTD Panti Bina Sosial Seksi Bina Remaja, Frits Y.D. Rumayomi, usai penutupan kegiatan rehabilitasi sosial, di Aula Panti Sosial Tresna Werdha Kampung Sereh, Selasa (16/12).
Menurut Frits, program rehabilitasi sosial ini tidak hanya berfokus pada pelatihan keterampilan teknis, tetapi juga pembinaan menyeluruh yang mencakup pembinaan kerohanian, pengetahuan umum, serta penguatan karakter dan mental remaja.
“Selain keterampilan, peserta juga mendapatkan pembinaan kerohanian, pengetahuan umum, dan berbagai materi penguatan agar mereka siap kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dalam program ini terdapat dua jurusan keterampilan, yakni keterampilan mengemudi dan keterampilan pembuatan fiberboat, masing-masing diikuti oleh 10 peserta, sehingga total peserta berjumlah 20 anak dan remaja.
Selama pelaksanaan kegiatan, para peserta juga dibekali berbagai materi edukatif, seperti penyuluhan tentang HIV/AIDS yang disampaikan oleh pemateri dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, serta materi pencegahan dan dampak penyalahgunaan narkoba, yang dinilai sangat penting bagi kelompok usia remaja.
“Materi ini sangat relevan karena remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap pengaruh narkoba dan pergaulan bebas. Kami ingin mereka memiliki pemahaman yang baik agar mampu menjaga diri,” jelasnya.
Selain itu, peserta juga menerima materi tentang dinamika kelompok, materi sosial, serta pengenalan kelompok usaha bersama, sebagai bekal jika kelak mereka ingin membangun usaha mandiri di kampung masing-masing.
Setelah mendapatkan materi penguatan, peserta kemudian mengikuti pelatihan keterampilan sesuai jurusan yang dipilih. Untuk jurusan mengemudi, peserta memperoleh keterampilan mengemudi yang diharapkan dapat menjadi bekal seumur hidup. Sementara itu, peserta jurusan pembuatan fiberboat dilatih langsung mulai dari proses pembuatan hingga penyelesaian perahu fiber.
“Untuk jurusan fiberboat, peserta bukan hanya belajar teori, tetapi mereka langsung membuat perahu fiber sendiri dan hasilnya dibawa pulang. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka,” ungkap Frits.
Ia menambahkan, para peserta juga menerima paket bantuan sebagai modal awal. Peserta jurusan mengemudi mendapatkan paket mesin untuk mendukung aktivitas transportasi, sementara peserta fiberboat membawa pulang hasil karya berupa speed boat lengkap dengan mesinnya.
“Kami tidak hanya memberikan hasil, tetapi juga ‘umpan dan kail’, agar mereka bisa mandiri dan berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Bantuan tersebut disalurkan kepada peserta yang berasal dari tiga wilayah kampung di Kabupaten Jayapura, yakni Kampung Ayapo yang mewakili wilayah barat, wilayah Depapre sebagai perwakilan wilayah tengah, serta Kampung Nendali–Demta sebagai perwakilan wilayah timur. Pemetaan ini dilakukan agar manfaat program dapat dirasakan secara merata.
Frits berharap, keterampilan yang diperoleh peserta tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga berdampak bagi keluarga dan masyarakat di kampung, seperti membantu transportasi warga, mengantar keluarga ke fasilitas kesehatan, hingga memperbaiki perahu warga yang rusak tanpa harus ke bengkel di kota.
“Kami ingin mereka menjadi berkat bagi keluarga dan masyarakat di kampungnya masing-masing,” ujarnya.
Ke depan, UPTD Panti Bina Sosial Provinsi Papua berencana melanjutkan program keterampilan mengemudi, sementara untuk pelatihan fiberboat akan dikembangkan menjadi pelatihan mekanik mesin laut, guna menjawab kebutuhan masyarakat pesisir dan danau.
“Kami melihat potensi besar di wilayah pesisir. Tenaga montir mesin laut masih sangat terbatas, sehingga ini menjadi peluang kerja bagi anak-anak binaan ke depan,” tutup Frits. (DanTop)
0 Komentar