Ketua Dewan Adat Sentani: Setuju Insentif Kepala Suku, Asal Bukan dari Dana Kampung

Ketua Dewan Adat Sentani Origenes Kaway, saat memberikan keterangan pers kepada wartawan media on line Suaracyclops.com. di Kampung Doyo Baru Distrik Waibu Kabupaten Jayapura. Senin, 23/3/2026 (Foto; Dani)




SENTANI,JAYAPURA | Suaracyclops.com — Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Origenes Kaway, menyampaikan apresiasi kepada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Jayapura atas kebijakan pemberian insentif kepada para ondofolo/ondoafi (kepala adat) yang direncanakan disalurkan setiap triwulan.

Namun demikian, ia menyoroti kejelasan sumber anggaran insentif tersebut yang hingga kini masih menjadi perbincangan di tengah masyarakat adat.

“Sebagai orang adat, kami sangat berterima kasih atas perhatian pemerintah daerah. Ini bentuk penghargaan bagi kami. Tetapi yang menjadi pertanyaan, insentif ini bersumber dari mana,” ujar Origenes Kaway saat diwawancarai di Kampung Doyo Baru, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Senin (23/3).

Ia menegaskan, apabila insentif tersebut diambil dari dana kampung (dana desa), maka hal itu perlu ditinjau kembali. Menurutnya, lembaga adat tidak termasuk dalam struktur pemerintahan kampung, sehingga pembiayaannya sebaiknya tidak dibebankan pada anggaran kampung.

Kalau dari dana kampung, saya pribadi tidak setuju. Karena kampung juga punya banyak kebutuhan pembangunan yang harus diprioritaskan,” tegasnya.

Origenes menjelaskan, saat ini dana desa yang diterima kampung juga mengalami pengurangan dari pemerintah pusat, sehingga penggunaannya harus lebih bijak dan tepat sasaran. Ia khawatir jika insentif adat diambil dari dana kampung, maka akan berdampak pada program pembangunan di tingkat kampung.

Dengan kondisi dana desa yang dipangkas, kepala kampung pasti akan kesulitan. Jangan sampai anggaran habis untuk honor, sementara pembangunan kampung terhambat,” katanya.

Ia juga menyinggung bahwa selama ini banyak program pemerintah pusat yang dilimpahkan ke kampung untuk dilaksanakan, sehingga beban kampung semakin berat. Dalam kondisi tersebut, dana kampung menjadi satu-satunya andalan untuk pembangunan di wilayah pedesaan.

Lebih lanjut, Origenes meminta pemerintah daerah memberikan penjelasan secara terbuka terkait sumber pendanaan insentif tersebut agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

“Kami berharap ada penjelasan resmi dari Bupati dan Wakil Bupati. Kalau memang sumbernya jelas dan tidak membebani kampung, tentu kami mendukung. Tapi kalau dari dana kampung, saya termasuk yang akan menolak,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, ia juga menegaskan bahwa para ondofolo tetap berharap insentif tersebut dapat direalisasikan, mengingat kebijakan tersebut telah dicanangkan sejak awal tahun 2026.

“Kami berharap insentif ini bisa segera direalisasikan. Namun yang terpenting adalah kejelasan sumber dan tidak merugikan pembangunan kampung,” pungkasnya. (DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar