Ketua Panitia Temu Raya dan Karya ke-8 Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI Se-Tanah Papua. Henock Puraro secara resmi menyerahkan deskripsi Logo dan Maskot kegiatan kepada Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, S.Th, Rabu, 20/7/2026 (Foto; Doc WA).


JAYAPURA, PAPUA | Suaracyclops.com – Panitia Temu Raya dan Karya ke-8 Persekutuan Kaum Bapak (PKB) GKI Se-Tanah Papua secara resmi menyerahkan deskripsi logo dan maskot kegiatan kepada Ketua Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Andrikus Mofu, S.Th, dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Kantor Sinode GKI di Tanah Papua, Argapura, Rabu (20/7).

Penyerahan dilakukan oleh Ketua Panitia Temu Raya dan Karya ke-8 PKB GKI Se-Tanah Papua, Henock Puraro, S.Sos, sebagai tanda bahwa logo dan maskot kegiatan telah mendapat pengesahan dan secara resmi dapat digunakan dalam seluruh rangkaian sosialisasi serta pelaksanaan Temu Raya dan Karya PKB GKI Se-Tanah Papua Tahun 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Ketua Panitia yang juga Kepala Seksi Persekutuan Kaum Bapak (PKB) Klasis GKI Sentani, Wellem Ansaka, menjelaskan filosofi logo dan maskot yang mengangkat "Sagu Meai Wali" dengan slogan "Sagu Adalah Hidup Kita."

Menurutnya, pemilihan sagu sebagai ikon Temu Raya bukan tanpa alasan. Sagu memiliki makna yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Papua dan sejalan dengan panggilan gereja dalam menjaga ciptaan Tuhan serta mewujudkan kesejahteraan umat.

Ia menjelaskan bahwa filosofi tersebut berangkat dari beberapa landasan penting, di antaranya Misi GKI di Tanah Papua, yakni mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah melalui persekutuan, kesaksian, keadilan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Selain itu, konsep tersebut juga merujuk pada Pengakuan Iman GKI di Tanah Papua yang menegaskan pentingnya menjaga alam sebagai ciptaan Tuhan yang harus dipelihara bersama.

Wellem Ansaka mengatakan bahwa Tahun 2026 telah ditetapkan sebagai Tahun Kepedulian, sehingga seluruh warga gereja diajak membangun kepedulian terhadap kelestarian alam sekaligus memperkuat ketahanan pangan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

"Sagu merupakan ciptaan dan anugerah Allah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Papua. Karena itu, melalui Temu Raya ini kami ingin mengajak seluruh anggota PKB untuk kembali menanam dan melestarikan sagu sebagai warisan yang harus dijaga," ujarnya.

Sebagai tindak lanjut dari semangat tersebut, Biro PKB GKI di Tanah Papua bersama PKB Klasis GKI Sentani mengajak seluruh anggota PKB GKI Se-Tanah Papua untuk menggerakkan program penanaman sagu di berbagai wilayah pelayanan.

Gerakan ini juga sejalan dengan pesan Bupati Jayapura yang sebelumnya mencanangkan program penanaman 1.000 pohon sagu di Kehiran bersama PKB GKI Klasis Sentani. Program tersebut diharapkan dapat dilanjutkan secara serentak oleh seluruh PKB GKI Se-Tanah Papua dalam rangkaian Temu Raya dan Karya yang akan berlangsung pada November 2026.

Panitia menegaskan bahwa semangat yang diusung dalam logo dan maskot bukan sekadar identitas visual, tetapi juga menjadi ajakan bagi seluruh warga gereja untuk menjaga kelestarian alam Papua.

Pesan yang ingin disampaikan melalui maskot "Sagu Meai Wali" adalah:

"Bersama Kita Jaga Hutan, Kita Tanam Sagu, Untuk Masa Depan Papua yang Lestari dan Papua yang Sejahtera."

Sementara itu, angka delapan (8) yang terdapat pada logo melambangkan penyelenggaraan Temu Raya dan Karya PKB GKI Se-Tanah Papua yang ke-8 pada Tahun 2026, sekaligus menjadi simbol kebersamaan, kesinambungan pelayanan, dan semangat membangun masa depan gereja yang mandiri, lestari, serta berkelanjutan.

Ketua Panitia Henock Puraro, S.Sos berharap logo dan maskot yang telah disahkan tersebut dapat menjadi identitas bersama seluruh anggota PKB GKI Se-Tanah Papua, sekaligus menginspirasi gerakan nyata dalam menjaga lingkungan, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua melalui pelestarian sagu sebagai warisan budaya dan ciptaan Tuhan. (DanTop)