Buka Puasa Bersama Paguyuban Nusantara, AMAN Jayapura Peringati HKMAN ke-27

Ketua Pengurus Daerah (PD) AMAN Jayapura, Benhur Yudha Wally, foto bersama Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara di Kampung Waena Distrik Heram Kota Jayapura. Senin, 16/3/2026 (Foto: Obed Kromsian)



WAENA,JAYAPURA | Suaracyclops.com — Asosiasi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Daerah Jayapura memperingati Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) ke-27 dengan semangat kebersamaan dan persatuan.

Peringatan tahun ini diisi dengan kegiatan berbagi kasih yang dirangkai dalam buka puasa bersama Paguyuban Nusantara di Kampung Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Senin (16/3). Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Pengurus Daerah (PD) AMAN Jayapura, Benhur Yudha Wally.

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan tampak mewarnai kegiatan tersebut. Kehadiran Benhur disambut antusias oleh anggota Paguyuban Nusantara yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan kini menetap di Kota Jayapura.

Dalam sambutannya, Benhur menegaskan bahwa peringatan HKMAN bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk memperkuat persatuan masyarakat adat di tengah keberagaman.

“Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara menjadi momen untuk kita bersatu, tanpa melihat perbedaan suku, ras, maupun agama. Kita semua adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus hidup berdampingan dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lain, terutama dalam konteks keberagaman yang ada di Papua.

Menurutnya, meskipun anggota Paguyuban Nusantara berasal dari berbagai latar belakang daerah, secara nilai dan akar budaya, semuanya memiliki kesamaan sebagai bagian dari masyarakat adat.

“Perjuangan kita sama, yakni agar masyarakat adat dihargai dan diakui keberadaannya oleh negara,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Benhur yang juga merupakan anggota DPR Provinsi Papua utusan masyarakat adat turut menyinggung pentingnya pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat. 

Ia berharap regulasi tersebut segera disahkan sebagai bentuk perlindungan hukum bagi masyarakat adat di seluruh Indonesia.

Kegiatan buka puasa bersama ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga simbol kuat toleransi antarumat beragama.

 Selain mempererat hubungan antarwarga, kegiatan ini sekaligus menjadi wadah untuk menyuarakan aspirasi masyarakat adat.

Peringatan HKMAN ke-27 pun diharapkan menjadi pengingat bahwa kebangkitan masyarakat adat merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan Indonesia yang lebih adil, inklusif, dan beradab. (Obed/DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar