Menghidupkan Jejak Injil dan Pendidikan di Lembah Grime, Klasis Nimboran Tanam 1.100 Pohon Kayu Putih

Foto bersama usai penanaman pohon di Gunung Mentie Yano, Kampung Gemebs Distrik Nimboran Kabupaten Jayapura. Jumat, 6/3/2026 (Foto; Doc AH)



GENYEM | Suaracyclop.com – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) ke-64, Badan Pekerja Klasis Nimboran bersama sekolah-sekolah YPK tingkat SD dan SMP di wilayah Klasis Nimboran menggelar kegiatan penanaman 1.100 pohon minyak kayu putih serta penancapan salib di Gunung Mentie Yano, Kampung Gemebs, Distrik Nimboran Kabupaten Jayapura  sebuah lokasi bersejarah bagi masyarakat Lembah Grime. Jumat, (6/2026).

Gunung Mentie Yano dikenal sebagai tempat penting dalam sejarah masuknya Injil di wilayah Lembah Grime sekitar 100 tahun lalu. Selain itu, lokasi tersebut juga menjadi tempat awal berlangsungnya kegiatan pendidikan bagi masyarakat setempat pada masa lalu.

Wakil Ketua Fraksi Bersatu Membangun DPRK Jayapura, Antonius Hawase, SE, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar perayaan HUT YPK, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah iman dan pendidikan yang pernah dimulai dari tempat tersebut.

“Kami sebagai anak-anak Lembah Grime perlu melihat kembali sejarah itu. Gunung Mentie Yano adalah tempat bersejarah, di mana Injil mulai diberitakan dan pendidikan pertama diajarkan kepada masyarakat di wilayah ini,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga sejalan dengan tema besar Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua tahun 2026, yang menekankan kepedulian terhadap umat sekaligus terhadap alam.

“Karena itu, Klasis Nimboran melaksanakan dua kegiatan utama, yakni penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, serta penancapan salib di situs sejarah sebagai pengingat perjalanan iman masyarakat Lembah Grime,” jelasnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Aristoteles Aap, menjelaskan bahwa jenis bibit yang ditanam dalam kegiatan tersebut adalah pohon minyak kayu putih yang merupakan bantuan dari dinas.
Ia mengatakan tanaman ini memiliki nilai ekonomi yang cukup baik bagi masyarakat maupun warga jemaat di wilayah tersebut.

“Pohon minyak kayu putih ini bisa menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat. Dinas Kehutanan siap membantu penyediaan bibit, bahkan juga membantu akses pemasaran hasil minyak kayu putih,” kata Aristoteles.

Menurutnya, tanaman kayu putih relatif cepat menghasilkan.
“Dalam waktu sekitar dua tahun, pohon ini sudah bisa dipanen dan diolah menjadi minyak kayu putih yang memiliki nilai ekonomi,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dan warga jemaat di wilayah Klasis Nimboran dapat terus menjaga kelestarian alam sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal melalui budidaya tanaman kayu putih. (DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar