PGI mengeluarkan pernyataan sikap yang mengecam segala bentuk kekerasan di Tanah Papua dan menyerukan penyelesaian konflik melalui dialog damai, perlindungan warga sipil, serta penegakan hukum yang adil dan transparan. (Foto: Ilustrasi/AI)
JAYAPURA, PAPUA | Suaracyclops.com – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi konflik bersenjata yang kembali terjadi di sejumlah wilayah di Tanah Papua, khususnya di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Yahukimo. Konflik tersebut dalam beberapa hari terakhir telah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil maupun aparat keamanan.
Dalam siaran pers yang diterima media pada Jumat (3/7), PGI menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban. Korban yang disebutkan antara lain Pendeta Elianus Agimbau, pelayan Tuhan dan gembala jemaat GKI, Melkiana Duwitau yang sedang mengandung delapan bulan beserta bayi yang dikandungnya, warga sipil Okto Tigau, Pilot berkewarganegaraan Amerika Serikat Captain Nicholas F. Goselin yang meninggal dunia dalam insiden penyerangan dan pembakaran pesawat AMA PK-RCY di Bandara Ipdeheik, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, pada 2 Juli 2026, serta anggota TNI Praka Bayu Oktara.
Menurut PGI, rangkaian peristiwa tersebut tidak hanya merenggut nyawa manusia, tetapi juga memaksa ribuan warga sipil mengungsi akibat situasi keamanan yang semakin memburuk.
PGI menegaskan bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Karena itu, segala bentuk pembunuhan, penyiksaan, mutilasi, maupun serangan terhadap warga sipil dan fasilitas sipil dinilai tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun, baik politik maupun keamanan.
Dalam pernyataan sikapnya, PGI menyampaikan tujuh poin penting. Pertama, mengecam keras seluruh bentuk kekerasan yang menimbulkan korban jiwa, termasuk serangan terhadap pesawat sipil dan masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik.
Kedua, PGI menyatakan keprihatinan atas semakin pudarnya penghormatan terhadap martabat manusia, yang menurut ajaran Kristen diciptakan menurut gambar Allah dan memiliki nilai yang tidak tergantikan.
Ketiga, seluruh pihak yang bertikai didesak segera menghentikan aksi kekerasan serta mengutamakan keselamatan dan perlindungan warga sipil.
Keempat, PGI menilai pendekatan militeristik yang selama ini ditempuh belum mampu menghadirkan penyelesaian damai dan berkeadilan. Sebaliknya, pendekatan tersebut dinilai berpotensi memperpanjang penderitaan masyarakat di wilayah konflik.
Kelima, PGI kembali mendorong terwujudnya dialog damai yang selama ini telah disuarakan oleh gereja, tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat sipil sebagai jalan penyelesaian konflik secara bermartabat.
Selain itu, PGI juga mendesak pemerintah melakukan penyelidikan secara independen, transparan, dan tidak memihak terhadap seluruh peristiwa yang terjadi, serta memberikan sanksi hukum kepada pihak yang terbukti bersalah.
PGI turut meminta Panglima TNI dan Kapolri menindak secara profesional, transparan, dan akuntabel apabila ditemukan aparat yang diduga melakukan pelanggaran hukum maupun hak asasi manusia.
Menutup pernyataannya, PGI kembali menyampaikan belasungkawa kepada seluruh keluarga korban dan berharap Tuhan Yesus Kristus memberikan kekuatan, penghiburan, serta damai sejahtera bagi mereka yang sedang berduka dan bagi seluruh masyarakat Papua.
PGI juga mengutip firman Tuhan dalam Matius 5:9, "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah," sebagai ajakan kepada seluruh pihak untuk mengedepankan perdamaian dan menghentikan kekerasan di Tanah Papua.
Redaksi: Pernyataan ini merupakan ringkasan isi siaran pers resmi PGI tertanggal 3 Juli 2026 dan disajikan dalam format berita soft news tanpa mengubah substansi pokok yang disampaikan oleh PGI. (DanTop)
0 Komentar