SADARI dan Paradoks Kesadaran Kesehatan Perempuandr. Erick Akwan Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini Kanker Payudara

Dokter spesialis bedah onkologi, dr. Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K) Senin, 17/11/2025 (Foto; Doc JMI)



SENTANI-JAYAPURA | Suaracyclops.com — Kesadaran perempuan terhadap kesehatan payudara masih menjadi tantangan besar, meskipun informasi tentang kanker payudara semakin mudah diakses. Banyak perempuan baru mengetahui dirinya mengidap kanker payudara ketika penyakit tersebut sudah berada pada tahap lanjut.

Dokter spesialis bedah onkologi, dr. Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa kondisi tersebut masih sering ditemui dalam praktik medis. Banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan setelah benjolan di payudara membesar atau bahkan telah menyebar ke bagian tubuh lain.

“Dalam kondisi seperti itu pengobatan masih bisa dilakukan, tetapi peluang keberhasilannya tidak sebesar ketika penyakit ditemukan lebih awal,” ujarnya. Senin, (17/11/2025).

Menurutnya, kanker payudara sebenarnya tidak muncul secara tiba-tiba. Penyakit ini umumnya berkembang secara perlahan dan sering memberikan tanda-tanda awal melalui perubahan pada payudara.

Namun perubahan tersebut kerap tidak disadari atau bahkan diabaikan. Situasi inilah yang disebutnya sebagai paradoks dalam kesadaran kesehatan perempuan: informasi mengenai kanker payudara semakin luas, tetapi kebiasaan melakukan deteksi dini masih belum menjadi budaya.

Ancaman Nyata bagi Perempuan
Kanker payudara hingga kini masih menjadi salah satu jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan di dunia. Di Indonesia, penyakit ini juga termasuk penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan.

Masalah utamanya bukan hanya tingginya angka kejadian, tetapi juga keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru memeriksakan diri ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut sehingga pilihan terapi menjadi lebih kompleks dan peluang kesembuhan semakin kecil.

Dalam banyak kasus, kata Erick, pasien sebenarnya telah merasakan adanya benjolan sejak lama tetapi memilih menunggu karena menganggap keluhan tersebut tidak berbahaya. Ada pula yang merasa takut memeriksakan diri karena khawatir dengan kemungkinan diagnosis yang akan diterima.

Padahal, dalam penanganan kanker payudara, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.
Pentingnya SADARI
Salah satu cara paling sederhana untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini adalah melalui SADARI (Periksa Payudara Sendiri).

Pemeriksaan ini dapat dilakukan secara mandiri di rumah tanpa memerlukan alat medis. Melalui SADARI, perempuan dapat mengenali kondisi normal payudaranya sehingga perubahan sekecil apa pun dapat lebih mudah disadari.

SADARI sebaiknya dilakukan setiap bulan, sekitar tujuh hingga sepuluh hari setelah menstruasi, ketika jaringan payudara tidak dalam kondisi bengkak atau nyeri. Bagi perempuan yang telah menopause, pemeriksaan dapat dilakukan pada tanggal yang sama setiap bulan agar lebih mudah diingat.

Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain munculnya benjolan pada payudara, perubahan bentuk payudara, kulit yang tampak seperti kulit jeruk, puting yang tertarik ke dalam, atau keluarnya cairan dari puting.

“Tidak semua benjolan adalah kanker, tetapi setiap perubahan yang tidak biasa sebaiknya segera diperiksakan ke tenaga medis,” kata Erick.

Ia menegaskan bahwa SADARI bukan alat diagnosis, melainkan langkah awal untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan pada tubuh.

Pengetahuan yang Belum Menjadi Kebiasaan

Meski sosialisasi mengenai deteksi dini kanker payudara sudah cukup luas, praktik SADARI masih belum menjadi kebiasaan bagi banyak perempuan.

Beberapa faktor memengaruhi kondisi tersebut, mulai dari rasa takut terhadap kemungkinan diagnosis kanker hingga kesibukan sehari-hari yang membuat pemeriksaan kesehatan sering tertunda.

Selain itu, dalam banyak budaya perempuan sering menempatkan kebutuhan keluarga di atas kesehatan dirinya sendiri. Tanpa disadari, hal ini membuat mereka datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah berkembang lebih jauh.

Padahal menjaga kesehatan perempuan berarti juga menjaga kesehatan keluarga.

Membangun Budaya Deteksi Dini
Menurut Erick, upaya menekan angka kematian akibat kanker payudara tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi medis, tetapi juga pada perubahan cara pandang masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini.

SADARI dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran tersebut. Pemeriksaan ini tidak membutuhkan biaya, tidak memerlukan alat khusus, dan hanya memerlukan beberapa menit setiap bulan.

Lebih dari sekadar teknik pemeriksaan, SADARI mengajarkan perempuan untuk lebih peka terhadap tubuhnya sendiri.

“Tubuh sering kali sudah memberi sinyal sebelum penyakit berkembang lebih jauh. Jika perubahan kecil dapat dikenali lebih awal, maka penanganan juga bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya.

Pada akhirnya, kata Erick, upaya melawan kanker payudara tidak selalu dimulai dari ruang operasi atau teknologi medis yang canggih. Kesadaran untuk memperhatikan tubuh sendiri justru menjadi langkah paling awal dan paling penting.

Karena sering kali, tubuh sebenarnya sudah memberi tanda. Masalahnya hanya satu: apakah kita cukup peka untuk menyadarinya sebelum semuanya terlambat. (DanTop) 

Posting Komentar

0 Komentar