SENTANI, JAYAPURA | Suaracyclop.com – PT Angkasa Pura Indonesia melalui Bandara Internasional Sentani menggelar kegiatan Pelatihan Keadaan Darurat (Emergency Exercise) sebagai bagian dari upaya menjaga kesiapsiagaan dan keselamatan penerbangan. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (25/6), melibatkan 59 personel dari berbagai instansi terkait.
Regional CEO Regional V PT Angkasa Pura Indonesia, Handy Heryudhitiawan, mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan program rutin yang wajib dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh seluruh bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura Indonesia.
"Program ini bersifat mandatory atau wajib dilaksanakan dan hasilnya akan dilaporkan kepada Kementerian Perhubungan. Tahun ini giliran Bandara Sentani yang melaksanakan kegiatan tersebut setelah sebelumnya dilakukan di Bandara Manado," ujarnya usai kegiatan.
Menurut Handy, pelatihan keadaan darurat tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola bandara, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kepolisian, TNI AU, otoritas bandara, rumah sakit, hingga instansi pendukung lainnya yang berada dalam ekosistem penerbangan.
"Kami ingin memastikan seluruh pihak memahami tugas dan fungsi masing-masing ketika menghadapi situasi darurat yang sebenarnya. Dengan latihan ini, koordinasi antarinstansi dapat berjalan cepat dan efektif," katanya.
Dalam simulasi tersebut, berbagai skenario keadaan darurat diperagakan, termasuk ancaman keamanan penerbangan maupun kemungkinan kecelakaan pesawat. Seluruh prosedur penanganan diuji mulai dari proses pelaporan, koordinasi lintas instansi, hingga mobilisasi personel dan peralatan pendukung.
Handy menjelaskan bahwa setiap bandara memiliki dokumen prosedur keadaan darurat yang secara berkala harus diperbarui, termasuk daftar kontak pejabat dan instansi yang harus segera dihubungi saat terjadi insiden.
"Melalui simulasi ini kami memastikan semua pihak mengetahui jalur koordinasi, akses masuk bantuan, hingga siapa yang bertanggung jawab mengambil keputusan pada saat kondisi darurat terjadi," jelasnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi darurat seluruh sumber daya yang tersedia akan dikerahkan. Bahkan, kerja sama dengan sejumlah rumah sakit telah dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan penanganan korban dalam jumlah besar.
Sebagai contoh, pesawat Boeing 737 yang beroperasi di Bandara Sentani dapat mengangkut lebih dari 180 penumpang. Oleh karena itu, kesiapan fasilitas kesehatan menjadi bagian penting dalam sistem penanganan keadaan darurat.
"Semua bandara menerapkan standar yang sama. Hanya saja penyesuaiannya dilakukan berdasarkan karakteristik bandara, jumlah penumpang, dan jenis pesawat yang beroperasi," ungkapnya.
Lebih lanjut, Handy menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan tanggung jawab bersama yang harus dijaga secara berkelanjutan. Pelatihan rutin seperti ini menjadi bagian dari standar internasional yang diterapkan di seluruh bandara guna menjamin operasional penerbangan tetap aman, lancar, dan terpercaya.
"Dengan latihan yang dilakukan secara berkala, diharapkan ketika terjadi kondisi darurat yang sesungguhnya, seluruh pihak sudah memahami perannya masing-masing sehingga tidak terjadi kebingungan dalam penanganan situasi," pungkasnya. (DanTop)
0 Komentar