Kepala Bidang Kelembagaan/Adat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Jayapura, Elvis S. Kabey, S.Sos., M.Si., Ka.is, 18/6/2026 (Foto; Doc EK)
SENTANI,JAYAPURA | Suaracyclops.com – Menjelang pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) Tahun 2026, Kepala Bidang Kelembagaan/Adat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Jayapura, Elvis S. Kabey, S.Sos., M.Si., memperkenalkan istilah dalam bahasa lokal Sentani yang dinilai tepat untuk menyebut parade kendaraan budaya atau parade mobil hias.
Menurut Elvis Kabey, Festival Danau Sentani selama ini identik dengan atraksi Isolo, yakni iring-iringan perahu adat yang disusun melebar di atas permukaan Danau Sentani. Namun, apabila konsep parade dilaksanakan di darat menggunakan kendaraan bermotor, maka bentuk dan susunannya tentu berbeda dengan Isolo.
"Di jalan raya, kendaraan tidak dapat disusun melebar seperti armada perahu di danau. Kendaraan akan bergerak beriringan dalam satu jalur memanjang dari depan ke belakang," jelas Elvis.
Ia menjelaskan, dalam bahasa Sentani kondisi kendaraan yang berbaris memanjang mengikuti jalur jalan dikenal dengan istilah "Homo Khokhoo", yang berarti berderet memanjang.
Dari istilah tersebut kemudian lahir penyebutan "Iy Homo", di mana kata "Iy" berarti kendaraan, sedangkan "Homo" berarti berderetan memanjang. Dalam perkembangannya, penyebutan "Iy Homo" disederhanakan menjadi "Isomo", agar lebih mudah diucapkan dan diingat.
"Jadi, Isomo memiliki makna kendaraan yang beriringan atau berderetan memanjang mengikuti jalur jalan. Istilah ini sangat tepat digunakan untuk menyebut Parade Budaya Kendaraan maupun Parade Kendaraan Hias dalam Festival Danau Sentani," ujarnya.
Elvis berharap penggunaan istilah Isomo dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian bahasa dan budaya lokal Sentani, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat adat dalam setiap penyelenggaraan Festival Danau Sentani.
Selain menjadi ajang promosi pariwisata, Festival Danau Sentani juga diharapkan terus menjadi ruang untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya, bahasa daerah, serta kearifan lokal kepada masyarakat luas, sehingga warisan budaya Sentani tetap terjaga dan dikenal oleh generasi mendatang. (DanTop)
0 Komentar