Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, dr. Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K). Jumat, 15/8/2025 (Foto; Doc EA)
SENTANI-JAYAPURA | Suaracyclops.com – Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di dunia, termasuk di Indonesia. Sayangnya, banyak perempuan baru mengetahui dirinya menderita kanker serviks ketika penyakit tersebut telah memasuki stadium lanjut.
Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Onkologi, dr. Erick Akwan, Sp.B Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa pada tahap lanjut, penderita biasanya mulai merasakan keluhan seperti perdarahan tidak normal, nyeri panggul, hingga kelelahan berat. Pada kondisi ini, proses pengobatan menjadi lebih kompleks, biaya pengobatan meningkat, dan peluang kesembuhan juga menurun.
“Padahal kanker serviks sebenarnya termasuk jenis kanker yang paling bisa dicegah dan dideteksi sejak dini,” ujar dr. Erick. Jumat, (15/8).
Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ratusan ribu perempuan meninggal setiap tahun akibat kanker serviks. Sebagian besar kasus kematian tersebut terjadi di negara berkembang yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Padahal, perubahan sel pada leher rahim umumnya berlangsung secara perlahan selama bertahun-tahun sebelum berkembang menjadi kanker. Pada tahap awal inilah kelainan dapat dideteksi melalui pemeriksaan sederhana seperti Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat).
Jika kelainan sel ditemukan lebih awal, penanganan dapat segera dilakukan sebelum berkembang menjadi kanker yang lebih serius.
Namun di banyak daerah, termasuk di sejumlah wilayah Papua, pemeriksaan deteksi dini masih jarang dilakukan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan reproduksi.
“Banyak perempuan menganggap pemeriksaan baru perlu dilakukan jika sudah ada keluhan. Padahal pada tahap awal, kanker serviks sering tidak menimbulkan gejala apa pun,” jelasnya.
Selain kurangnya pengetahuan, faktor rasa takut dan stigma sosial juga menjadi hambatan. Di beberapa komunitas, pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi masih dianggap tabu. Tidak sedikit perempuan yang merasa malu atau takut untuk memeriksakan diri.
Di sisi lain, kondisi geografis Papua yang luas dan sulit dijangkau juga menjadi tantangan tersendiri. Jarak yang jauh ke fasilitas kesehatan, keterbatasan transportasi, serta jumlah tenaga medis yang belum merata membuat layanan pemeriksaan kesehatan reproduksi belum sepenuhnya mudah diakses masyarakat.
Karena itu, menurut dr. Erick, upaya pencegahan kanker serviks tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan medis, tetapi juga perlu diimbangi dengan edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Deteksi dini merupakan langkah paling efektif untuk menurunkan angka kematian akibat kanker serviks. Jika penyakit ini ditemukan pada tahap awal, peluang kesembuhan dapat mencapai lebih dari 90 persen.
Pemeriksaan IVA yang tersedia di banyak puskesmas dinilai dapat menjadi solusi karena relatif murah, sederhana, dan dapat menjangkau masyarakat luas. Pemeriksaan ini bahkan dapat dilakukan dalam berbagai kegiatan pelayanan kesehatan masyarakat, seperti program kesehatan ibu dan anak maupun kegiatan penyuluhan kesehatan di kampung-kampung.
Selain itu, dukungan keluarga juga memegang peran penting. Dukungan dari suami dan keluarga dapat membantu mengurangi rasa takut maupun rasa malu yang sering menjadi penghalang bagi perempuan untuk memeriksakan diri.
Menurut dr. Erick, kesehatan perempuan sangat menentukan kekuatan sebuah keluarga. Perempuan tidak hanya berperan sebagai ibu, tetapi juga sebagai pengasuh dan pendidik pertama bagi anak-anak.
“Ketika perempuan sehat, keluarga menjadi lebih kuat dan masa depan masyarakat juga akan lebih baik,” katanya.
Karena itu, meningkatkan kesadaran tentang deteksi dini kanker serviks bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga investasi bagi masa depan masyarakat, khususnya di daerah seperti Papua yang masih menghadapi berbagai tantangan dalam akses layanan kesehatan.
Melalui edukasi yang tepat, pemerataan layanan kesehatan, serta dukungan keluarga dan masyarakat, diharapkan semakin banyak perempuan yang berani melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
“Jangan menunggu gejala muncul. Deteksi dini dapat menyelamatkan nyawa,” pungkas dr. Erick. (DanTop)
0 Komentar